Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Negeri nan hampir tergadai

[caption id="" align="aligncenter" width="3088"] Gambar: Lukisan Kamal Guci [/caption] Maota-ota  dengan orang sekampung[1] memanglah dapat menjadi pengobat rindu dengan kampung halaman. Demikianlah nan berlaku pada kami, seorang engku yang merasa dekat dengan beberap orang pembuat kebijakan di Luhak Agam itupun berkisah bahwa pada zaman sekarang adat itu tiada perlu lagi karena negeri kita ini sudah banyak dihuni oleh orang asing. "Dari di Bukik Tinggi usah ditanya sudah banyak tanahnya dimiliki oleh bukan orang Kurai demikian pula tanah-tanah di sekitar Bukik Tinggi itu semacam Gadut, Kubang Putiah, Ampek Angkek, Biaro, hingga ke Baso telah banyak nan dibeli oleh bukan anak nagari." demikian kisahnya. "Benar engku, namun nan membeli kebanyakankan masih orang Minangkabau jua.." jawab kami

1 Muharam 1439 Hijriyah

[caption id="" align="aligncenter" width="1920"] Picture: https://publicholidays-ae.akamaized.net [/caption] Tahukah engku? Kalau pergantian hari dalam Islam berlaku tatkala waktu magrib masuk. Jadi semenjak senja hari Rabu tanggal 20 September 2017 kemarin kita sudah memasuki 1 Muharam 1439 H.

Rumah Gadang

[caption id="" align="aligncenter" width="1500"] Gambar: https://2.bp.blogspot.com/ [/caption] Waktu memahat tunggak tua rumah untuk perempun itu, melainkan perempuan itulah yang mengaduduki tunggak tua itu, dan kepadanyalah tukang tua minta’ izin waktu mula mencatak, artinya mula memahat tunggak tua itu; karena perempuan itulah yang punya tunggak tua itu, sedang tonggak yang lain-lain, melainkan jadi tonggak turutan saja kepada tonggak tua itu, artinya tonggak tua itulah yang rumah dan siapa yang punya tonggak tua itulah yang punya rumah; dan walaupun laki-laki yang menebang kayunya  atau yang membelinya; melainkan kedar menolong saja, maksudnya melainkan untuk perempuan juga; demikianlah pepanjang adat kita Alam Minangkabau, perempuanlah yang punya rumah, bukanlah sekali-kali laki-laki; dan anak perempuan atau binilah yang dibuatkan rumah; karena mereka itulah yang dimaksud dari bermula hendak membuat rumah, kecuali surau, lepau, kedai, atau toko tempat...

Di tangan perempuan

[caption id="" align="aligncenter" width="477"] Gambar: http://www.langitperempuan.com[/caption] Tak salah orang menjulukinya Bundo Kanduang dari Alam Minang.. Pikirannya tertuju kepada kaum ibu yang akan melahirkan pemuda harapan bangsa. Kaum Ibu yang hendak melahirkan manusia yang dikehendaki Illahi itu harus dibina sedemikian rupa hingga generasi yang dilahirkannya pasti sanggup memikul beban KHALIFAH di muka bumi ini. Usaha paling berat tapi harus dilaksanakan. Itupun kalau kita meyakini bahwa hidup ziarah sebentar ke dunia ini benar-benar untuk menyelamatkan keluarga, menyelamatkan suku, menyelamatkan pulau, menyelamatkan bangsa dan atau untuk menyelamatkan dunia ini. Karenanya pandangan utama harus ditujukan ke.. RUMAH TANGGA. [Leon Salim. Rahma el Yunusiyah Satria Wanita dari Alam Minang” dalam Hajjah Rahmah el Yunusiyah dan Zainudin Labay el Yunusy: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia. Ed. Aminudin Rasyad (Jakarta: Pengur...

Gelar tinggal Gelar..

[caption id="attachment_2578" align="aligncenter" width="500"] Mencontoh ke nan elok[/caption] Kaciak banamo, gadang bagala.. Sudah menjadi kelaziman pada masa sekarang di nagari kita dalam keseharian orang saling menyebut nama dalam bertukar sapa. Hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang biasa dan justeru terasa janggal apabila ada yang menyebut gelar, terutama bagi lelaki muda yang baru berumah tangga. Kami tiada pula faham kenapa dapat serupa itu, pernah mendengar seorang lelaki muda yang baru tak berapa lama berumah tangga berkata "Sebut nama sajalah engku, jauh kita rasanya kalau dipanggil kami dengan gelar.."

Datuak Rajo Pangulu

[caption id="" align="aligncenter" width="480"] Marsose Belanda Gambar: http://ristadiwidodo.blogspot.co.id[/caption] PROFIL MUHAMMAD SALEH DATUAK RAJO PANGULU PIMPINAN PERLAWANAN SUMATERA BARAT MENENTANG BELANDA DI KAMANG 15 JUNI 1908 Oleh: Hirwan St. Saidi Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu (1873 – 1908), pemimpin utama Perang Kamang yang meletus 15 Juni 1908, seorang mujahid yang lahir tahun 1873 M  dari  pasangan suami istri S olihin dan  Alam nabi di kampung Gurun Jorong Joho dari pasukuan Sikumbang. Sewaktu kecil Dt.Rajo Pangulu dipanggil Saleh , sesuai dengan nama yang diberi oleh orang tua beliau yakni Muhammad Saleh. Hidup dikampung bersama orang tuanya. Seperti anak-anak Kamang lainnya pada masa tersebut, pendidikan yang beliau tempuh adalah pendidikan surau. Disurau beliau belajar mengaji, belajar silat dan adat. Untuk memperdalam ilmu silat beliau belajar kepada guru silat yang ternama baik berada di Kamang maupun di luar Kamang. Untuk men...

Permainan anak perempuan

[caption id="" align="aligncenter" width="284"] Gambar: http://3.bp.blogspot.com [/caption] Pada masa sekarang kehidupan orang telah berlainan, hampir setiap jengkal kehidupan dipengaruhi oleh mesin dengan dalih memudahkan pekerjaan manusia. Adakah terfikirkan oleh engku, rangkayo, serta encik sekalian serupa apakah kehidupan inyiak-inyiak kita pada masa dahulu? Masa lampau yang dikatakan oleh orang jauh lebih sehat dari sekarang, karena tiada diracuni oleh bahan kimia tatkala makan. Atau kanak-kanaknya sehat sebab banyak menggerakkan badan, berlainan dengan sekarang yang lebih banyak duduk dan khusyuk dengan permainan di komputer, laptop, ataupun telpon seluler.

Surau dahulunya

[caption id="" align="aligncenter" width="440"] Gambar: http://upload.wikimedia.org [/caption] Pada Hari Rayo Anam ini perkenankan kami membawa engku, rangkayo, serta encik sekalian menyilau masa dahulu. Tentang gambaran kehidupan surau pada masa dahulu yang sudah tiada didapati lagi pada masa sekarang. Dalam kenangan Nur Sutan Iskandar yang merupakan salah seorang pujangga di negeri kita, beliau mencoba melukiskan tentang kenangannya tatkala memasuki kehidupan surau. Pasa suatu hari Jum'at disaat beliau belum lagi berumur enam tahun, selepas shalat Magarib datanglah seorang tuanku ke rumah orang tuanya. " Selepas dijamu dengan makan dan minum, ayah saya menyerahkan saya kepada tuanku agar diajarkan mengaji Al Qur'an. Sambil mengucapkan kata penyerahan itu, ayah memberikan sebuah cambuk dari lidi daun kelapa yang terpilin tiga ke tangan tuanku, akan pemukul saya, kalau saya tak menurut perintah atau nakal .." Pada masa sekarang manalah ...

Adat sopan santun orang Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia [/caption] Dalam suasana hari raya ini berkenankah engku, rangkayo, serta encik sekalian kami bawa melancong ke masa silam. Baru-baru ini kami mendapatkan sebuah kutipan pada sebuah buku dari tulisan seorang ahli perilaku (etiket) pada masa dahulunya di Minangkabau. Dikarang oleh B. Dt. Seri Maharajo dengan judul  Kitab 'Adat Sopan Santoen Orang Minangkabau  yang diterbitkan oleh Penerbit Merapi & Co  pada tahun 1922 di Bukit Tinggi. Kutipan tersebut memuat uraian pada halaman 75-80 sebagai berikut: 1. Apabila duduk bersama-sama tak boleh terkentut 2. Kalau menguap harus menutup mulut dengan tangan yang terkerucut 3. Apabila pergi ke jamban (untuk buang air besar) perlulah menutup kepala, memakai terompah, dan jangan terbuka aurat sebelum masuk jamban. Jangan bercakap-cakap, jangan pula menyahuti panggilan (seruan orang) melainkan dengan batuk kecil-keci...

Kembali pulang

[caption id="" align="aligncenter" width="1230"] Gambar: http://www.kuala-lumpur.ws [/caption] Hari raya, masanya berkumpul bersama Hari raya, kesempatan menyilau kampung nan dicinta hari raya, tibalah saatnya bersua Hari raya, bersua kawan lama Hari raya, saatnya mengenang masa bernostalgia Namun, sekali air gedang, sekali tepian berubah Masa nan lalu tiada dapat diulang Entah kampung halaman Entah karena jarang pulang Inilah ia perkembangan zaman

Lois Constant Westenenk

[caption id="" align="aligncenter" width="266"] Gambar: https://nl.wikipedia.org [/caption] Apabila kita mengkaji Tarikh Perang Kamang maka kita akan acap bersua dengan seorang Belanda yang terkenal sangat dibenci di Agam Tuo pada masa awal abad ke-20, Lois Constant Westenenk namanya atau biasa disingkat dengan L.C.Westenenk atau oleh orang Minangkabau dipanggil dengan panggilan Si Teneng. Ketika Perang Kamang meletus dia menjabat sebagai Controleur Oud Agam yang merupakan jabatan terendah yang dipegang oleh seorang Belanda. Walau jabatan terendah, seorang Controleur (Malayu:Kontrolur) membawah pejabat pribumi yang paling tinggi jabatannya. Di Minangkabau pejabat pribumi paling tinggi itu diberi gelar Kepala Lareh atau orang Minang memanggilnya dengan panggilan Engku Laras (Angku Lareh). Si Teneng lahir di Panawang-Semarang pada tanggal 2 Februari 1872 dan meninggal di Wassenar-Belanda pada tanggal 2 Mei 1930. Dia merupakan anak dari Jan Constantijn Weste...

Kamang-Bukik

[caption id="attachment_1383" align="aligncenter" width="529"] Dimana dan rumah siapakah ini?[/caption] Perang Kamang 1908, kami yakin bahwa inyiak-inyiak kita masa dahulu takkan menyangka anak cucunya akan bertikai serupa nan berlaku sekarang. Niat mereka hanyalah untuk membela agama Allah, menegakkan marwah Alam Minangkabau. Namun kini, karena hendak menggedangkan diri, hendak mendapatkan nama maka rusuh dalam nagari. Apakah ini karena pengaruh zaman? Kata orang, kita tengah berada di Zaman Tipu Daya serupa nan telah dinubuatkan oleh junjungan kita empat belas abad nan silam. Suatu zaman dimana batas antara yang haq dengan yang bathil sangat tipis dan payah untuk menyisihkannya. Terkenang pula kami dengan perkataan dari Saidina Ali kepada salah seorang sahabatnya yang kami lupa namanya, begini kira-kira bunyinya;  Janganlah engkau menyalahkan zaman, karena apabila ia dapat bercakap nisacaya ia akan berkata "Bukan daku nan salah, melainkan manusia n...

Gelap rasanya

[caption id="" align="aligncenter" width="950"] Gambar: https://www.tes.com [/caption] Penghulu, datuk tuan memanggil, bukan sembarang gelar, bukan pula sembarang panggilan. Tuah padanya penuh dengan pantangan akan sikap tercela, beban padanya penuh dengan tanggung jawab tak terkira. Dimasa Paderi, semua ulama ialah Kaum Putih, namun tak semua penghulu ianya Kaum Hitam. Cukup banyak penghulu nan berdiri rapat dibarisan Kaum Putih. Dimasa dahulu adat dan syari'at itu bertautan, dimasa kini, dicari-cari orang pertentangannya. Bagi nan baru belajar agama, dikatanya adat bertentangan dengan syari'at. Bagi nan kapatang baru ke surau dipandangnya adat itu kelam.

Menyegarkan Ingatan Tentang Kamang

Oleh: Dt Tan Tuah Dimuat di Padang Ekspress, Jumat 15 Juni 2012   Memperingati perlawanan rakyat Kamang [1] yang dikenal dengan Pemberontakan Pajak  le-104 jatuh pada 15 Juni 2012, penulis ingin menyegarkan kembali ingatan tentang peristiwa yang oleh Taufik Abdullah (2010) pandang sebagai awal bagi Era Kebangsaan Indonesia. Kesadaran anti penjajah yang tertanam kuat dalam diri Bung Hatta dipercaya, salah satunya, berawal dari peristiwa ini. Ketika Bung Hatta melihat “urang rantai” yang digiring lewat di depan rumah beliau, ketika itu inyiak [2] beliau berkata “ Tu, urang Kamang nan mawalan Bulando.. ” [3] Pengakuan Pemerintah Republik Indonesia terhadap peristiwa tersebut tertulis dalam lembaran sejarah secara resmi. Bukti pengakuan tersebut setidaknya telah diberikan dalam beberapa bentuk, seperti; Sambutan Meteri Pertahanan Chairul Saleh dalam peringatan Perang Kamang pada 15 Juni 1962 di Gedung Kesenian Jakarta Kunjungan Meteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan RI Jend...

Ramadhan Mubarak (2017)

[caption id="" align="aligncenter" width="660"] Gambar: https://id.pinterest.com [/caption] Ramadhan, bulan puasa kata orang kampung kita. Bulan nan dinantikan, dan teramat diidamkan oleh umat muslim. Sebelum ketibaannya, ramai orang membersihkan diri, meminta maaf lahir dan bathin agar diterima segala amalan di bulan nan mulia, nikmat terasa setiap harinya. Membersihkan diri, balimau kata orang Minang. Limau atau jeruk merupakan buah nan banyak manfaat, baik untuk kesehatan dan baik pula dipakai untuk membersih kulit. Limau ialah buah pembersih, dengan limau anasir-anasir berbahaya di dalam dan luar badan dapat dibersihkan.

Nagari Kamang, Negeri Pejuang

Tulisan ini dimuat di Republika Online pada  hari  Jum'at 26 Mei 2017 Di nagari ini, pahlawan Minangkabau bertumbangan menghadapi serangan penjajah Belanda. Spanduk-spanduk peringat an Perang Kamang masih membentang di jalan-jalan ketika kami berkunjung ke nagari itu, pekan ketiga Juni 2013. Karangan bunga di makam-makam pahlawan sudah mengering tetapi masih tetap pada tempatnya. Nagari Kamang, Kamang Darussalam, Nagari Syuhada. Nagari yang terletak di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, itu memang tak bisa lepas dari peristiwa-peristiwa melawan kolonialis Belanda. Dimulai dari Perang Paderi pada 1821, Perang Kamang pada 15-16 Juni 1908, dan Pemberontakan Kamang pada 1926. Bersama fotografer Edwin Dwi Putranto, saya niatkan menyusuri beberapa sudut sejarah perjuangan di nagari yang terletak di kaki Bukit Barisan itu. Kami putuskan memulai perjalanan ini dari Masjid Wustha di kawasan Ampang, Jorong Ampek Kampuang. Tak ada yang istimewa dari penampilan mas jid ini, sebuah masjid modern. ...

Sengketa Tiada Putus_Bag.3

MENYINGKAP MUHAMMAD SALEH DATUAK RAJO PANGULU PEMIMPIN UTAMA PERANG KAMANG Pendahuluan Sejarah adalah pengalaman sekelompok manusia. Kata “Sejarah” berasal dari bahasa Arab ”Asy-Syajarah” yang berarti Pohon. Menurut Ibnu Khaldun, istilah sejarah adalah “ pengetahuan tentang proses-proses sebagai realitas dan sebab musababnya secara mendalam ”. Sejalan dengan peredaran waktu, kadang kala sejarah tersebut ada yang dibelok-belokan/ditambahkan ( make up history = sejarah yang mengada-ada) menuju kepada pemitosan sejarah untuk maksud tertentu, dan ada juga yang masih sesuai dengan realitanya ( reality history). Begitu juga dengan sejarah Perang Kamang, pada saat ini telah terdiri dari 2 versi, dengan kronologis sebagai berikut : Pertama : Mengemukakan bahwa Perang Kamang itu disebabkan dikekuarkannya income belasteng  (pajak) oleh Belanda. Dalam pertemuan dengan Kotrolir Oud Agam (Westennenk), Laras Kamang, Garang Dt.Palindih menyanggah dengan gigih bahwa Belasteng tidak mungkin dilak...

Sengketa Tiada Putus_Bag.2

BANTAHAN /PELURUSAN UNTUK  USULAN PAHLAWAN NASIONAL H.ABDUL MANAN   Hanya bangsa yang menghargai jasa pahlawannya menjadi bangsa yang besar , itulah yang selalu diucapkan oleh Presiden Sukarno untuk menghargai para pahlawan bangsa. Untuk merealisasikan hal tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Agam dan Propinsi Sumatera Barat telah berusaha untuk mengusung 3 (tiga) orang Pahlawan Anti Belasting, yaitu H.Abdul Manan, Muhammad Saleh Dt.Rajo Pangulu dan Siti Manggopoh, diusulkan untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional . Dimana ketiga usulan tersebut telah sampai ditingkat Propinsi Sumatera Barat. Setelah membaca usulan H.Abdul Manan untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional (karena usulan tidak memakai nomor, kami memberi nomor halaman mulai dari (SISILAH DAN RIWAYAT HIDUP H.ABDUL MANAN “PEMIMPIN PERANG KAMANG”), kami melihat adanya make up history (sejarah yang mengada-ada), yang tidak sesuai dengan fakta sejarah maupun fakta yang ada dilapangan, yang dapat dikelompokan menjadi : Waktu...

Sengketa Tiada Putus_Bag.1

Semenjak setahun nan silam telah dilakukan penyusunan sejarah Perang Kamang 1908 dalam hal ini menyangkut peranan beberapa orang tokoh yang menjadi pemimpin dalam perang tersebut. Sudah semenjak lama terjadi dua ragam cerita mengenai sejarah Perang Kamang yakni versi Kamang (Kamang Hilia) dan Babukik (Kamang Mudiak) Versi Kamang menyebutkan tiga orang tokoh yang berperan sebagai pemimpin dalam menggerakkan masyarakat untuk menentang penetapan pajak (belasting) yakni Muhammad Saleh Dt. Rajo Pangulu, Haji Abdul Manan, dan Abdul Wahid Kari Mudo. Sedangkan versi Kamang Mudiak hanya mengakui Haji Abdul Manan dimana beliau merupakan anak nagari di Nagari Babukik. Dalam perkembangannya, kedua versi sama-sama diajukan sehingga menimbulkan pertikaian yang merupakan kelanjutan dari pertikaian-pertikaian sebelumnya. Tentunya masyarakat menjadi cemas, khawatir, dan sedih mendapati ini semua. Tokoh-tokoh yang sedang diperjuangkan untuk dijadikan pahlawan pada dasarnya tentunya dahulu sama sekali ti...

Berbuhul Mati

[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Surau yang berarsitektur Minang Gambar: http://baralekdi.blogspot.co.id [/caption] Labuh raya di bandar besar itu sangatlah ramai, amatlah payah bagi orang-orang nan hendak menyeberangi labuh itu. Para pengendara tiada hendak mengalah kepada orang-orang nan hendak menyeberang itu. Mereka semua sedang diburu waktu, mesti cepat sampai karena banyak hal nan mesti diurus. Pemandangan serupa itu tiada akan tuan dapati di kampung halaman kita. Lepau nasi nan disebut orang "warung" di pulau ini telah silih berganti orang nan datang. Namun si empunya lepau terlihat tengah bersantai. Beberapa orang anak buahnya telah diarahkannya untuk bekerja, dia hanya melihat-lihat saja lagi. "Tahukah engkau, apa perbedaan bandar ini dengan kampung kita?" tanya kawan kami disela-sela percakapan seputar kampung halaman nan teramat dirindukannya itu. Kami terdiam, memandang hendak tahu. Tentulah banyak perbedaan ...

Ramaya & Komunis

[caption id="" align="aligncenter" width="1920"] Gambar: https://www.psychologytoday.com [/caption] Pemeberontakan Rakyat tahun 1926 masih belum terang benar tarikhnya di Nagari Kamang. Pada Tarikh Perang Kamang disebutkan bahwa Ramaya, anak dari Siti Anisah dan Nan Basikek merupakan pemimpin dari pemberontakan tersebut di Kamang. Namun agaknya tabir belum tersingkap karena asal muasala timbulnya pemberontakan itu di Nagari Kamang belum terang di hadapan kita. Pada beberapa tulisan di blog ini, telah dapat tersigi agak sedikit perihal Tarikh Pemberontakan Rakyat tahun 1926. Ramaya yang kalau dilihat dari umurnya tatkala Perang Kamang meletus berumur 6 (enam) tahun maka dapat kita simpulkan pada tahun 1926 ia berumur 22 tahun. Agaknya pemberontakan tahun 1926 ini memiliki kaitan dengan Pemberontakan Komunis tahun 1927 dimana pemberontakan yang terjadi pada tahun 1926 merupakan puncak dari kerusuhan politik, sosial, dan ekonomi yang telah berlangsung semenj...

Panasnya Suasana 1926

[caption id="" align="aligncenter" width="960"] Gambar: http://historia.id[/caption] Pada tulisan ini kita akan melihat bagaimana panasnya suasana pada tahun 1926 dan mencapai puncaknya pada tahun 1927 di Nagari Silungkang. Pada bulan Mei terjadi pembunuhan terhadap Kepala Nagari Tilatang dan pada bulan September berikutnya Ramaya kehabisan kesabaran dan melancarkan aksinya. ___________________________ Paco-paco Minangkabau #77 – Lajau, pembunuh Kepala Nagari Tilatang ditangkap (1927) Beberapa hari jbl. di Sitjintjin, Soematera Barat, t. Ass. Demang Kota Tengah telah menangkap Ladjau , jang terda’wa toeroet tjampoer dalam perkara pemboenoehan Dt. Radja Menteri, negerihoofd di Tilatang, pada boelan Mei tahoen jtl. [1926]. Radja Batipoeh, saudara Ladjau jang terda’wa mendjadi pemboenoeh jang pertama beloem terdapat. Ladjaupoen moela-moela ta’ soeka memberi keterangan dimana tempat persemboenjian saudaranja itoe. Kemoedian ia menjeboet nama soeatoe tempat ja...

Ramaya Si Pemberontak

[caption id="" align="aligncenter" width="705"] Gambar: http://almuawwizat.blogspot.co.id [/caption] “Padang, 20 Sept. (Aneta). Berhoeboeng dengan hal hilangnja Datoek Sati, adathoofd di Magek, tersiar kabar bahwa di onderdistr[ict] Kamang ada soeatoe perhimpoenan rahasia, didirikan oleh kaoem kominis. Perhimpoenan itoe bermaksoed hendak memboenoeh sekalian kepala-kepala Bp. [bumiputra]. Doea brigade militer dari Fort de Kock dikirim ketempat terseboet. Disana banjak orang-orang jang ditahan dan roemah-roemah jang digeledah. Kabarnja pagi kelamarin majat Datoek Sati terdapat telah terkoeboer disisi soengai dekat Batoe Djoelang, ond. distr. Kamang. Roepanja ia diboenoeh oleh Ramaja, pemimpin pergerakan kominis dan beberapa orang temannja, jang sekarang lari. Kemoedian dikabarkan poela: Di Pakan Selasa, ond. distr. Kamang adalah 40 orang kominis ditangkap dan 14 poetjoek senapang serta 1 poetjoek pistol dirampas. Pemimpinnja ditangkap di Fort dek Kock. Kaba...

Pemberontakan Rakyat 1926

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://su.wikipedia.org [/caption] Apabila engku pernah membaca Tarikh Perang Kamang, tentulah engku pernah membaca kisah nan menusuk hati perihal seorang kanak-kanak lelaki nan baru berumur enam tahun dengan ibunda dan ayahnya. Kisah itu terjadi menjelang meletusnya Perang Kamang, disaat para mujahid Kamang sibuk berlatih silat di halaman Surau Taluak. Sang ibu bernama Siti Annisah, sang ayah bernama Nan Basikek, dan biji mata mereka nan bernama Ramaya. Dalam Tarikh Perang Kamang dikisahkan bahwa kelak sang anak akan menjadi orang yang berpengaruh penting dalam Pemberontakan Rakyat tahun 1926. Amatlah payah menyelidiki peristiwa tahun 1926, namun pada akhirnya kami bersua dengan sebuah karangan yang di karangan oleh Engku Suryadi Sunuri yang pada saat ini merupakan seorang dosen di Universitas Leide. Cukup terkejut kami bahwa pemberontakan tersebut dikendalikan oleh Syarekat Hitam yang merupakan or...

Sekilas Sejarah Kamang

[caption id="" align="aligncenter" width="604"] Gambar: http://kamangsaiyoyahoocom.blogspot.co.id[/caption] ASAL-USUL DAN SEJARAH NAGARI KAMANG Oleh: Hirwan Saidi Secara etiomologi asal usul nama Nagari Kamang dapat ditelusuri, dimana menurut Tambo Nagari Kamang yang disesuaikan dengan sejarah Kerajaan Minangkabau, yang mengalami masa jayanya pada abad X Masehi, beberapa kelompok pengembara dari Pagaruyung mencoba mencari daerah baru sebagai perluasan wilayah. Mereka turun lewat Tabek Patah terus ke Bukit Lantak Tuo. Disini mereka memecah menjadi beberapa rombongan kecil. Salah satu dari rombongan tersebut meneruskan perjalanan menempuh hutan rimba, sampai mereka menemukan sebuah sungai yang mengalir dari barat ke timur, mereka menelusurinya untuk mencari hulunya. Mereka sampai pada pinggiran sungai yang berbatu-batu mirip terowongan, air keluar dari dalam terowongan tersebut. Perjalanan dilanjutkan,  mereka menemukan air berputar masuk terowongan bawah b...

Kamang 1908

[caption id="" align="aligncenter" width="650"] Gambar: https://www.roketkini.com [/caption] REALITA PERANG KAMANG Oleh: Hirwan Saidi 15 Juni 1908            Perang Kamang yang terjadi pada tanggal 15 Juni 1908 adalah peristiwa bersejarah. Suatu sejarah heroik dan patriotik yang pernah dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah Republik Indonesia. Dimana pada waktu itu telah terjadi perlawanan rakyat yang sangat gigih dan sengit   dengan senjata utamanya adalah semangat yang membara untuk menentang penjajah. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, membawa pengaruh terhadap perkembangan sejarah, termasuk sejarah Perang Kamang yang ditulis di website . Sejarah Perang Kamang yang ditulis di website ada yang tidak sesuai dengan realita Perang Kamang. Kalau kita berbicara tentang Perang Kamang, berarti kita membicarakan peristiwa yang terjadi di Kamang 105 tahun silam. Puncaknya yang terjadi pada tanggal 15 Juni 1908. Bagaimana realitanya, ap...

Akibat Tak Membajar Padjak

[caption id="" align="aligncenter" width="456"] Gambar: https://history1978.wordpress.com [/caption] “ Di Taroesan orang jang beloem meloenasi padjagnja, dibawa kekantor poelisi dan diperiksa badannja Berapa sadja oeang jang kedapatan padanja diambil, katanja oentoek pembajar padjag. Dikampoeng daerah Kalimantan banjak Ra’jat jang tidak sanggoep membajar padjagnja, dibeslah koepiah dan badjoenja, sehingga banjak jang meninggalkan kantor poelisi dengan tjelana pendek sadja .”

Perang Kamang: Kesaksian Abdul Wahid Kari Mudo

PERANG KAMANG 1908 MENURUT KACAMATA INYIAK KARI MUDO (PELAKU SEJARAH) Menjelang meletusnya Perang Kamang 15 Juni 1908, ada beberapa Tokoh Kamang yang cukup memainkan peranan penting, diantaranya adalah Abdul Wahid Kari Mudo. Kari Mudo adalah penduduk Kamang asli, kelahiran tahun 1880 M dari pasukuan Sikumbang dusun jalan basimpang Jorong Pintu Koto. Jika ditelusuri sisilah beliau, Kari Mudo termasuk keturunan salah seorang pemimpin Agama pada waktu Perang Paderi. Jadi tak heran jika beliau seorang yang cerdas dan terpelajar dizamannya, seorang idealis, mempunyai pandangan yang luas pada waktu itu, sehingga menjadi pemimpin yang Kharismatik ditengah masyarakat di Nagari Kamang. Diawal Bulan Maret 1908 dia telah menentukan sikap untuk tidak membayar pajak dan tidak akan tunduk pada peraturan Pemerintah Kompeni. Bersama dengan pemimpin Kamang lainnya beliau berhasil menggelorakan semangat rakyat untuk menghadapi perang melawan Belanda. Apa sebabnya Kari Mudo dan kawan-kawan begitu berani ...

Amir Perang Kamang

Oleh: hirwan saidi Kita selaku umat Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Sifat dari Nabi Muhammad tersebut adalah: Sidik (= benar); Tabliq (= menyampaikan); Amanat (= dipercaya) dan Futhanah (= Cerdas). Sedangkan  lawan dari sifat nabi tersebut adalah : Kazib (= bohong); Kitman (= menyembunyikan); Khianat (= tidak dapat dipercaya); Gaflah (= bodoh). Sejarah adalah pengalaman sekelompok manusia. Kata “Sejarah” berasal dari bahasa Arab ”Asy-Syajaroh” yang berarti Pohon. Menurut Ibnu Khaldun, istilah sejarah adalah “ pengetahuan tentang proses-proses sebagai realitas dan sebab musababnya secara mendalam ”. Sejalan dengan peredaran waktu, kadang kala sejarah tersebut ada yang dibelok-belokan/ditambahkan ( make up history = sejarah yang mengada-ada) menuju kepada pemitosan sejarah, dan ada juga yang masih sesuai dengan realitanya, ( reality history), untuk mencari kebenaran sejarah. Begitu juga dengan sejarah Perang Kamang, telah ada dua versi sejarah tersebut :

Perjodohan (Fasal.3)

Mangarumahan Urang [1] (Fihak Perempuan) Setelah kepastian telah didapat mengenai nasib Si Buyuang dan Si Upiak maka fihak perempuan kemudian mengadakan acara Mangarumahan Urang. Gunanya ialah untuk memberitahu kepada sekalian karib kerabat kalau Si Upiak telah dapat jodohnya, telah bersua ruas dengan buku. Itulah makna sesungguhnya dari acara ini. Yang diundang ketika acara ini ialah amai-bapak [2] , beragam cara orang mengadakan acara ini, namun tiangnya ialah sesuai kemampuan. Bagi yang sanggup maka mereka akan mengundang rang sumando dari seluruh anggota suku namun bagi yang tidak maka yang patut-patut saja. Maksudnya yang patut ialah yang dekat hubungannya, seperti kemudian ialah bako, setelah itu seluruh kaum kerabat.

Perjodohan (Fasal.5)

[caption id="" align="aligncenter" width="750"] Gambar: http://www.hipwee.com [/caption] Batando (jalannya) Digelari juga oleh orang dengan sebutan Batuka Cincin. Dalam adat di kampung kita, acara batando ini berlangsung di rumah keluarga fihak lelaki. Dimana mamak-mamak dari fihak perempuan mendatangi rumah keluarga fihak lelaki. Kedatangan ini tentulah telah direncanakan dan diberitahukan. Sedangkan fihak lelaki telah bersiap dalam menanti. Karena acara dipusatkan di rumah lelaki, maka fihak lelaki jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala sesuatunya. Para ibu-ibu semenjak beberapa hari nan lalu telah sibuk ke dapur, sibuk membuat masakan untuk dihidangkan pada hari batando. Diimbau lah segala dunsanak untuk ka dapua , karena Si Buyuang hendak batando. Sedangkan di fihak lelaki, selain dari mamak dan sudara-saudara sesuku juga diundang amai-bapak [1] dan bako. Yang hadir dari fihak bako tidak hanya saudara perempuan ayah melainkan juga saudara lela...

Perjodohan (Pengantar)

[caption id="" align="alignright" width="220"] Gambar: https://m.id.aliexpress.com [/caption] Urusan perkawinan atau pernikahan di Minangkabau ini telah lama menjadi urusan bersama atau kaum-kerabat. Mulai dari awal yakni pencarian jodoh hingga helat pernikahan, kesemuanya ditanggung oleh keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sudut pandang (perspektif) Kebudayaan Minangkabau mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang hidup sendiri (sebatang kara). Bahkan tak jarang dalam urusan pernikahan ini, Si Upiak dan Si Buyuang tahu beres saja. Mereka bahkan tidak dibawa serta untuk merundingkan masalah pernikahan mereka ini. Mereka hanya ditanya ketika masa awal perjodohan “Sukakah engkau dengan Si Fulan/Fulanah anak Si Anu, Kamanakan Si Antun, itu sukunya, dan disana rumahnya..?” Jika jawapan yang didapat ialah persetujuan, maka pernikahan akan segera diurus. Namun apabila jawapan yang diperoleh ialah sebaliknya, maka pembicaraan selesai disitu saja. Tidak ada ...

Khayalan belaka

[caption id="" align="aligncenter" width="244"] Picture: http://tambodunia.blogspot.co.id [/caption] Sungguh terkejut kami membaca pandangan seorang Belanda pada masa tahun 1849 tentang masyarakat Minangkabau. Sungguh tiada yakin kami dengan apa nan disampaikan oleh Si Belanda ini, bukanlah watak dan tabi'at masyarakat Minangkabau berfikiran demikian. Berikut kami lampirkan pendapatnya tersebut yang juga merupakan laporan kepada induk semangnya di Batavia: Kami melihat dimana-mana peningkatan populasi. Alasan utama adalah perbaikan pertanian beras, sehingga selalu ada cukup makanan. Sejak perbaikan ini kami menyaksikan lebih banyak perkawinan dan kami telah melihat penghentian "verderfelijke gewoonte" (praktik merusak) kaum perempuan untuk melakukan aborsi. Walau hasrat untuk terlihat muda seringkali dijadikan alasan utama perempuan "Melayu" tidak mau punya lebih dari tiga anak, tidak diragukan lagi adalah kekurangan pangan, atau h...

Keluarga di Minang

[caption id="" align="aligncenter" width="605"] Gambar: http://visualheritageblog.blogspot.co.id [/caption] Dahulu mungkin engku, rangkayo, serta encik sekalian acap mendengar orang tua-tua di kampung kita, apabila mereka bersua dengan orang di luar kampung, bertanya perihal nagari asal, suku, dan kemudian gelar. Apabila orang nan ditanya rupanya bersuku sama dengan mereka maka orang tua-tua di kampung kita akan berujar "Hah, kamanakan saya engku muda ini rupanya.." Atau kalau tidak, semisal bersukukan sama dengan ayahanda mereka maka akan dijawab "Bako saya engku ini rupanya.."

Adat Melahirkan dahulunya

[caption id="" align="alignright" width="255"] Gambar: http://jejakislam.net/680/[/caption] Sebelum kita mengenal bidan dan dokter, bagaimanakah perempuan masa dahulu melahirkan? Bersyukur kita yang hidup dimasa sekarang, karena dimasa dahulu angka kematian ibu dan anak sangatlah tinggi disebabkan kurangnya peralatan yang dapat mendukung si ibu dalam melahirkan. Belum ada operasi sesar dahulunya. Untuk itu kami mendapat dua buah kisah dalam hal adat kelahiran pada dua nagari di Luhak Agam ini dahulunya. Marilah kita simak, semoga dapat menjadi gambaran kasar bagi kita bagaimana orang dahulu dan di Kamang ini jalannya proses melahirkan tersebut. Adat kelahiran di Nagari Matur sesuai dengan yang digambarkan oleh salah seorang guru Melayu: Setelah bayi itu mulai tampak, maka disuruhnya perampuan itu menghajan kuat-kuat sehingga anak itu terpancar keluar dengan pusatnya yang panjang. Setelah itu, maka pusatnya yang panjang itu dipotonglah oleh dukun itu denga...

Rumah Gadang by Rafles

[caption id="" align="aligncenter" width="810"] Gambar: http://madeupinbritain.uk [/caption] Catatan Sir Thomas Stamford Rafles tentang Rumah Gadang (1818): Rumah-rumah biasanya besar dan dibangun dengan baik, jarang yang kurang dari 18 meter, interiornya, satu ruang panjang, dengan beberapa kamar di ujung berpintu ke arah ruang itu. Di depan rumah biasanya ada dua lumbung sama seperti yang ada di Jawa, tapi jauh lebih panjang dan lebih kukuh, tidak kurang dari 14 meter dan sanggup menampung jumlah besar sekali. Banyak diantaranya sangat terhias, berbagai bentuk bunga dan gambar diukir di tiang dan balok lintang, ada yang diwarnai. Selera untuk hiasan tidak terbatas hanya pada lumbung-lumbung, bahan kayu, sebagian besar rumah diukir, dan diwarnai merah, putih, dan hitam. Balok bubungan rumah-rumah, lumbung-lumbung, dan sebagainya. Punya penampakan yang khas, sangat cekung, ujung atau titikdari lengkung sabit itu sangat tajama. Di rumah-rumah lebih besar t...

Mendirikan rumah di Palembayan

[caption id="" align="aligncenter" width="336"] Gambar: KITLV / Tropen Museum[/caption] Di bawah ini ialah salah satu catatan seorang engku guru Sekolah Rendah yang bernama Si Sati gelar Maharaja Sutan di Nagari Palembayan perihal pembuatan sebuah rumah gadang. Catatan ini berasal dari tahun 1892 dan ditulis dengan Bahasa Minang. Sangat aneh membaca catatan ini karena pembangunan rumah hanya dimufakatkan oleh tiga orang bersaudara bersama sumando mereka saja, pada hal kita sama-sama tahu bahwa adat mendirikan sebuah rumah gadang sangat panjang dan rumit. Berikut catatan si engku guru: Adolah urang batigo badunsanak saibu-sabapo, baduo urang laki-laki surang padusi. Nan tuo sakali laki-laki bagala Bagindo Hitam, nan manangah bagala Bagindo Kuniang, kaduono karajono baniago kain. Nan bunsu sakali padusi lah maadoan (memiliki) anak tigo urang padusi samiang katigono. Nan tumpanganno (suami) digalakan urang Pak Rumin karano anakno nan tuo bana banamo Si Upiak...